HeadlinePasarSaham

Harga Minyak Dunia Hari Ini: Sinyal Damai Tekan Premi Risiko

31
Harga Minyak Dunia Hari Ini Sinyal Damai Tekan Premi Risiko
Harga minyak dunia hari ini turun seiring harapan berakhirnya perang Timur Tengah. WTI melandai ke USD101,38 dan Brent susut 2,6%. Simak analisis pasar selengkapnya!

JAKARTA, BursaNusantara.com– Stabilitas ekonomi global kini berada di titik persimpangan yang sangat menentukan setelah indikasi berakhirnya konflik militer di Teluk Persia mulai meredam lonjakan harga energi yang sempat menyentuh rekor sejarah.

Pasar sedang bertaruh pada normalisasi jalur pasokan vital di Selat Hormuz, di mana setiap pernyataan diplomatik dari pemimpin dunia kini memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan data inventaris minyak mentah konvensional.

Berdasarkan laporan perdagangan Selasa (31/3/2026), Harga Minyak Dunia Hari Ini ditutup melemah di tengah meningkatnya optimisme bahwa ketegangan bersenjata di Timur Tengah dapat segera mencapai titik temu.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,5 persen ke level USD101,38 per barel, sementara Brent untuk pengiriman Juni merosot 2,6 persen menjadi USD104,63 per barel.

Meskipun terjadi pelemahan pada akhir perdagangan, kontrak Brent untuk bulan Mei sempat berakhir di USD118,35 per barel, sebuah angka yang mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Apakah Pernyataan Trump dan Iran Menjadi Titik Balik Pasar?

Penurunan harga ini dipicu oleh kesiapan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri operasi militer bahkan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali secara total guna menghindari konflik berkepanjangan.

Sentimen tersebut diperkuat oleh pernyataan Presiden Iran yang mengisyaratkan keinginan untuk menghentikan perang, meskipun tetap menekankan kebutuhan akan jaminan keamanan tertentu.

Menurut Peter Cardillo dari Spartan Capital, pasar minyak akan menjadi faktor penentu akhir dari perang ini karena harga yang bertahan di level USD125 hingga USD130 akan sangat merusak perekonomian.

John Kilduff, partner di Again Capital, menambahkan bahwa berakhirnya permusuhan akan membuka kembali Selat Hormuz dan memangkas premi risiko yang selama ini telah menggelembungkan harga pasar.

Langkah Amerika Serikat mencabut sanksi minyak Rusia dan komitmen pelepasan cadangan minyak global juga mulai memberikan dampak, meski kapasitasnya hanya mampu menutupi kekurangan pasokan dalam waktu terbatas.

Rekor Kenaikan Tertinggi Sepanjang Sejarah di Kuartal I-2026

Terlepas dari penurunan harian, kontrak minyak menutup kuartal pertama 2026 dengan lonjakan nilai dolar tertinggi dalam sejarah akibat nyaris berhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan data Dow Jones Newswires, WTI melonjak USD43,96 per barel atau 77 persen sepanjang kuartal ini, mencatat kenaikan dolar terbesar sekaligus lonjakan persentase tertajam sejak kuartal II-2020.

Kinerja Brent bahkan lebih ekstrem dengan kenaikan 94 persen atau USD57,50 per barel, menandai lonjakan persentase tertinggi bagi benchmark internasional tersebut sejak kuartal III-1990.

Gangguan pasokan ini tercermin dari survei Reuters yang menunjukkan produksi minyak OPEC anjlok drastis 7,3 juta barel per hari menjadi hanya 21,57 juta barel per hari pada Maret 2026.

Level produksi tersebut merupakan yang terendah sejak puncak pandemi COVID-19, membuktikan betapa dalamnya dampak blokade Selat Hormuz terhadap aliran seperlima pasokan energi dunia.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version