Eskalasi Selat Hormuz Picu Gangguan Energi Terbesar Sejarah
JAKARTA, BursaNusantara.com– Investor harus bersiap menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah Badan Energi Internasional (IEA) menetapkan situasi saat ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Sentimen pasar kembali memanas menyusul kebuntuan negosiasi diplomatik di Timur Tengah yang secara langsung melumpuhkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan data penutupan perdagangan Kamis (26/3/2026), kontrak berjangka minyak Brent melonjak 5,7 persen menjadi USD108,01 per barel, sementara WTI AS meningkat 4,6 persen ke level USD94,48 per barel.
Akankah Proposal 15 Poin Amerika Serikat Ditolak Iran?
Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengonfirmasi pengiriman “daftar aksi 15 poin” melalui Pakistan sebagai landasan negosiasi untuk menghentikan permusuhan.
Namun, pejabat senior Iran kepada Reuters menyebut proposal tersebut sepihak dan tidak adil karena mencakup penghentian total pengayaan uranium serta pembatasan program rudal balistik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa pihaknya sedang meninjau dokumen tersebut, tetapi hingga kini belum ada pembicaraan resmi terkait penghentian perang.
Kebingungan atas simpang siurnya informasi antara Washington dan Teheran membuat Kepala Ekonom Matador Economics, Timothy Snyder, mencatat bahwa investor kini mulai beralih ke aset aman demi menjaga modal.
Situasi semakin tegang seiring rencana Pentagon mengirimkan ribuan pasukan lintas udara ke Teluk guna menambah opsi serangan darat bagi Presiden Donald Trump.
Mengapa Produksi Minyak Irak dan Rusia Turut Melumpuh?
Pasokan Minyak Mentah Dunia kian tertekan akibat penurunan produksi di Irak karena tangki penyimpanan yang telah mencapai level tinggi dan kritis.
Irak merupakan produsen minyak terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi, sehingga gangguan pada operasional mereka memberikan dampak signifikan pada stabilitas harga global.
Di sisi lain, perhitungan Reuters menunjukkan sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak Rusia terhenti akibat serangan drone Ukraina dan penyitaan kapal tanker di berbagai wilayah.
Kilang Kirishinefteorgsintez yang merupakan salah satu fasilitas terbesar di Rusia bahkan terpaksa menghentikan operasi pada Kamis setelah serangan drone memicu kebakaran hebat.
Analis MUFG Soojin Kim menilai pengerahan pasukan dan serangan infrastruktur baru akan terus menekan pasar energi global, meski ada sedikit konsesi diplomatik bagi kapal tanker dari beberapa negara tertentu.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












