Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Hilirisasi Baterai EV Terganjal Ekosistem Nikel Global

200
×

Hilirisasi Baterai EV Terganjal Ekosistem Nikel Global

Sebarkan artikel ini
Hilirisasi Baterai EV Terganjal Ekosistem Nikel Global
Ekosistem baterai EV belum kuat, LGES dan IBC batal lanjutkan proyek Titan, menyoroti tantangan hilirisasi nikel di pasar global.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Hilirisasi nikel untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia masih menemui tantangan besar akibat belum kuatnya ekosistem pendukung di sektor ini.

Konsorsium LG Energy Solution Ltd (LGES), yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, dan LG International, memilih untuk mundur dari proyek Titan bersama Indonesia Battery Corporation (IBC).

Sponsor
Iklan

Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan ketidakpastian pasar global, khususnya terhadap baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC). Pasar utama NMC, yang mencakup wilayah Eropa dan Amerika, menunjukkan perubahan signifikan dalam permintaan baterai EV.

Perubahan Pasar Global Pengaruhi Keputusan

VP Commercial and Marketing Indonesia Battery Corporation (IBC), Bayu Hermawan, mengungkapkan bahwa perubahan dinamika pasar menjadi alasan kunci di balik mundurnya konsorsium LG.

Baca Juga: LG Resmi Batalkan Proyek Baterai EV US$7,7 M di RI

Menurutnya, fokus konsorsium LG terhadap pasar NMC yang dominan di Eropa dan Amerika menjadi tantangan tersendiri di tengah perkembangan industri EV dunia.

“Key challenge juga dari mereka (LG), karena market mereka itu kan memang NMC, pasti market-nya ke Eropa, Amerika, dan sejenisnya,” jelas Bayu saat ditemui di Jakarta.

Sebagai informasi, proyek Titan yang digagas IBC dan konsorsium LG awalnya dirancang untuk mengembangkan baterai EV berbasis nikel NMC, sejalan dengan tren kebutuhan global yang terus berubah.

Dinamika Industri EV dan Nikel Dunia

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, menegaskan bahwa industri EV, baterai EV, dan nikel global saat ini tengah mengalami fase kedinamisan.

Baca Juga: Prabowo Terima FKI di Istana, Dorong Kerja Sama Ekonomi RI-Korsel

Ia menjelaskan bahwa mayoritas permintaan nikel dunia, sekitar 65%, masih didominasi oleh industri baja nirkarat. Sementara itu, kontribusi dari sektor baterai EV baru berkisar 13-15%.

“Pelaku industri nikel Indonesia dan asosiasi terkait saat ini rasanya sedang mempelajari kondisi dan situasi pasar nikel dunia,” ujar Hendra.

Adapun dari sisi teknologi, smelter berteknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) menjadi kunci penting dalam hilirisasi nikel untuk baterai EV. Smelter HPAL mampu mengolah bijih nikel menjadi bahan baku utama baterai berbasis NMC.

Progres Proyek HPAL di Indonesia

Meskipun konsorsium LG memutuskan mundur, beberapa proyek smelter HPAL di Indonesia tetap berjalan. Hendra menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai penghentian atau pembatalan proyek-proyek HPAL yang sedang dibangun.

Baca Juga: Prabowo Hadiri Townhall Danantara dan BUMN, Dorong Ekosistem Investasi

“Sampai saat ini dan sepanjang yang kami ketahui, beberapa proyek HPAL sedang dalam proses konstruksi, kami belum mendengar apakah ada investasi HPAL di Indonesia yang ditunda atau dibatalkan,” tambah Hendra.

Di antara proyek yang masih berjalan, tercatat ada kerja sama antara PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) dengan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dari China, yang tergabung dalam konsorsium proyek Dragon di bawah naungan IBC.

Selain itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga mengembangkan smelter HPAL di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd. Proyek ini ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2025.

Baca Juga: Harum Energy (HRUM) Alokasikan US$ 400 Juta untuk Ekspansi Bisnis Nikel di 2025

Proyek penting lainnya adalah pembangunan smelter HPAL di Blok Pomalaa, Sulawesi Tenggara, oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co. dan Ford Motor Company, yang bertindak sebagai pengguna akhir baterai EV.

Dampak Terhadap Nikel Kelas 1

Dari sisi hulu, Dewan Penasihat Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, menilai bahwa penurunan permintaan baterai berbasis nikel akan berdampak langsung pada permintaan nikel kelas 1, yaitu jenis high grade nickel.

Menurut Djoko, situasi ini berpotensi mendorong penundaan atau evaluasi terhadap investasi baru pada proyek smelter HPAL.

Pelaku industri pun dituntut untuk melakukan perhitungan lebih rinci terkait risiko ekonomi dalam proyek-proyek hilirisasi baru yang tengah direncanakan.

Baca Juga: Saham Rantai Pasok EV global Harga Masih Murah banget Genjot Produksi MHP

Penurunan permintaan global terhadap baterai EV berbasis nikel kini menjadi tantangan serius bagi pelaku industri nikel Indonesia.

Sementara itu, berbagai proyek strategis nasional terus melaju untuk mengejar target pembangunan ekosistem baterai EV yang lebih matang dan berdaya saing global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru