Koreksi Harga Emas Dipandang Sebagai Tump Persiapan Naik Lagi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia kembali terkoreksi tajam pada awal pekan ini. Namun, sejumlah analis menilai penurunan ini bukan akhir dari reli logam mulia, melainkan tump harga yang menjadi pijakan bagi potensi kenaikan berikutnya.
Pada perdagangan Senin (12/5) pukul 17.00 WIB, harga emas spot turun ke level US$ 3.216 per ons troi, melemah 3,28% dari sesi sebelumnya.
Secara mingguan, harga terkoreksi 3,54%, namun secara tahunan (ytd) masih menguat 22,53%, berdasarkan data Bloomberg.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Terjun, Investor Beralih ke Dolar AS
Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu Koreksi

Direktur Utama PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan harga emas dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) investor besar setelah harga sebelumnya mencetak rekor.
Secara teknikal, support harga saat ini berada di level US$ 3.185. Jika level ini jebol, maka potensi penurunan berlanjut hingga US$ 3.150 per ons troi. Namun, koreksi ini dinilai sebagai fase normal dalam tren naik jangka panjang.
Baca Juga: Dividen RAJA Tembus Rp250 Miliar, Payout Ratio Naik
Negosiasi Dagang Meredam Ketegangan Global

Dari sisi fundamental, tekanan juga datang dari meredanya tensi geopolitik dan perang dagang. Inggris dan Jepang baru saja mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menurunkan tarif perdagangan.
Paling mencolok adalah sinyal positif dari AS dan China yang berhasil menjalin komunikasi konstruktif di Swiss. Meskipun belum mencapai kesepakatan final, pertemuan tersebut membuka peluang perdamaian dagang ke depan.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa target AS untuk menurunkan tarif dari 148% ke 80% masih terlalu tinggi dan berpotensi menimbulkan gesekan lanjutan.
Baca Juga: PTBA Respons Tegas Ultimatum Hilirisasi Bahlil Proyek DME
Suku Bunga AS dan Ketidakpastian Global

Faktor lain yang turut menekan emas adalah sikap hawkish The Fed yang belum memberi sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah kebijakan moneter ketat.
Namun demikian, kondisi geopolitik yang masih panas, khususnya di Timur Tengah dan Eropa Timur, tetap menjadi pendorong permintaan emas sebagai safe haven.
Baca Juga: Antam Cetak Rekor Emas: Harga Tembus Rp1,7 Juta per Gram
Bank Sentral Dunia, Terutama China, Jadi Penopang Utama

Di tengah ketidakpastian global, permintaan dari bank sentral menjadi pilar penopang harga emas. Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI, Budi Frensidy, menyebut People’s Bank of China (PBOC) telah membeli hampir 30 ton emas dalam enam bulan terakhir.
Cadangan emas batangan yang dimiliki PBOC naik sekitar 70.000 ons troi per April 2025, menegaskan posisi China sebagai pembeli aktif di pasar emas global.
“Selama aksi borong ini terus berlangsung, maka harga emas masih berpeluang bertahan di atas US$ 3.000,” ujar Budi. Ia memproyeksikan harga emas akan stabil di kisaran US$ 3.100–US$ 3.300 hingga akhir 2025.
Baca Juga: Ekspor Batubara RI Anjlok, China-India Pangkas Impor Awal 2025
Potensi Rebound Tetap Terbuka

Meski harga terkoreksi, Ibrahim tetap optimis terhadap prospek emas hingga akhir 2025. Jika harga mampu bertahan dan memantul dari US$ 3.150, maka level US$ 3.400 kembali terbuka untuk dicapai.
Dengan dukungan sentimen global yang kompleks dan pembelian oleh bank sentral, fase koreksi ini dianggap sebagai tump sementara yang memberi ruang bagi pemulihan yang lebih kuat ke depan.
Baca Juga: PALM Right Issue 4,71 Miliar Saham, Fokus Tambah Portofolio
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












