HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Dunia Bangkit: Peluang Rebound ke USD5.000?

70
Harga Emas Dunia Bangkit Peluang Rebound ke USD5.000
Waspadai pemulihan Harga Emas Dunia ke level USD4.506 saat tekanan inflasi minyak mereda. Simak analisis teknikal dan proyeksi suku bunga terbaru di sini!

Penurunan Harga Minyak Beri Ruang Napas Bagi Aset Safe Haven

JAKARTA, BursaNusantara.com– Investor harus menyadari bahwa pasar emas global kini sedang memasuki fase pemulihan teknikal yang krusial setelah sempat tertekan ke level terendah dalam empat bulan terakhir.

Melansir data perdagangan pada Rabu (25/3/2026), harga emas spot tercatat naik 0,71 persen ke level USD4.506,27 per troy ons di tengah meredanya kekhawatiran inflasi.

Kenaikan ini didorong oleh koreksi harga minyak dunia yang memberikan sentimen positif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengungkapkan bahwa meredanya konflik yang melibatkan Iran turut menopang pergerakan logam mulia.

Penurunan harga minyak terjadi pasca adanya laporan mengenai proposal 15 poin dari Amerika Serikat kepada Iran guna mengakhiri ketegangan bersenjata di kawasan tersebut.

Kondisi ini secara langsung mengurangi peluang bertahannya suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama di pasar keuangan global.

Akankah Pemangkasan Suku Bunga Membawa Emas ke USD5.000?

Peter Grant menekankan bahwa pasar masih memerlukan bukti lebih lanjut terkait pelonggaran inflasi untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga tahun ini.

Jika skenario pemangkasan bunga acuan tersebut terealisasi, harga emas diproyeksikan memiliki ruang untuk kembali melonjak menuju level psikologis USD5.000.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, daya tarik emas biasanya akan meningkat tajam dalam lingkungan suku bunga rendah karena berkurangnya biaya peluang.

Namun, volatilitas tetap membayangi seiring rencana Pentagon yang tetap menyiapkan pengiriman ribuan pasukan lintas udara ke kawasan Teluk.

Langkah militer ini bertujuan memberikan opsi lebih luas bagi Presiden Donald Trump untuk melakukan operasi darat jika diplomasi menemui jalan buntu.

Ketidakpastian geopolitik ini membuat emas tetap diposisikan sebagai instrumen lindung nilai utama bagi para pengelola dana global.

Diversifikasi Bank Sentral: Menakar Arus Modal Spekulatif 2026

Analis dari SP Angel mencatat bahwa gejolak harga emas belakangan ini merupakan cerminan dari keluarnya aliran investasi spekulatif yang sempat melonjak sepanjang 2025.

Meskipun modal spekulatif mulai keluar, tren diversifikasi cadangan devisa oleh bank-bank sentral dunia diperkirakan akan tetap berlanjut pada tahun 2026.

Sebagai catatan, harga emas spot sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada level USD5.594,82 per ons pada akhir Januari lalu.

Kenaikan total sebesar 64 persen pada tahun lalu menunjukkan betapa masifnya pergeseran aset global menuju instrumen yang dianggap aman selama krisis.

Di sisi lain, logam mulia lainnya seperti perak spot juga mencatatkan penguatan sebesar 1,7 persen ke level USD72,41 pada sesi perdagangan yang sama.

Sementara itu, paladium justru menunjukkan performa kontras dengan penurunan satu persen ke angka USD1.424,99 di tengah dinamika pasar industri.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version