Efisiensi Operasional Kunci Hadapi Tren Penurunan Harga
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pesta pora harga energi global mungkin telah usai, namun emiten tambang raksasa justru menemukan cara mencetak rekor marjin di tengah menyusutnya nilai komoditas.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 35,2 persen.
Berdasarkan pernyataan resmi perseroan pada Kamis (30/4/2026), perusahaan membukukan Laba Bersih BUMI senilai USD24,1 juta.
Capaian hingga kuartal I-2026 ini melesat dari periode yang sama tahun lalu yang hanya berada di level USD17,9 juta.
Sejalan dengan kinerja bottom line, pendapatan perusahaan juga terkerek naik sebesar 19,7 persen menjadi USD417,7 juta.
Bagaimana Strip Ratio Mengalahkan Penurunan Harga FOB?
Lonjakan profitabilitas BUMI terjadi justru ketika indikator harga jual rata-rata batu bara melemah cukup dalam.
Harga rata-rata Freight on Board (FOB) tercatat anjlok 10 persen dari USD64,9 per ton menjadi hanya USD58,6 per ton.
Namun, manajemen berhasil mengompensasi tekanan harga ini melalui perbaikan struktural yang signifikan pada strip ratio.
Efisiensi rasio pengupasan tanah ini secara langsung memperbaiki keekonomian per ton di seluruh operasi tambang utama perseroan.
Bagi investor, penurunan strip ratio merupakan sinyal positif bahwa perusahaan mampu menekan biaya operasional secara fundamental, bukan sekadar tertolong lonjakan harga pasar sementara.
Keberhasilan menjaga disiplin beban operasional ini pada akhirnya mendorong ekspansi marjin operasi yang lebih tinggi di seluruh lini usaha perusahaan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












